“Sejak kapan aku berfikir untuk pulang? padahal memang tak pernah pergi!”

Putri terdiam, duduk dengan mata menerawang jauh dan berharap untuk secepatnya bisa kembali pulang.

“Pulang?” batinnya pun ikut tertawa sinis. “Sejak kapan aku berfikir untuk pulang? padahal memang tak pernah pergi!”

Ya, sejatinya Putri takkan pernah bisa berkata ingin pulang. Karena, bahkan semenjak lahir dia tak pernah menginjakkan kaki barang sedikitpun ke desa tetangga. Putri asli anak kampung sini. Ibu, Bapak, Saudara, bahkan Kakek dan Nenek Putri lahir di sini.

Namun mengapa Putri tiba-tiba merasa ingin pulang?

Itu karena beberapa hari ini rumahnya tak lagi sama. Tidak tidak, bukan rumahnya yang berbeda. Namun suasananya yang tak pernah lagi membuat Puteri seperti dulu. Kini, tak ada lagi wangi sambal yang hendak dipanaskan karena ingin makan siang pulang sekolah. Kini, tak ada lagi aroma pewangi baju yang sedang disetrika rapih oleh ibu diruang tengah.

Putri masih termangu, tak dapat lagi sesak itu menyiksa dirinya. Putri masih terdiam, mencoba memunguti satu persatu bagian hatinya yang telah hancur berkeping-keping. Mencoba mengembalikan kekuatan. Agar saat ia berdiri nanti, kakinya tak berkhianat menyurukkan muka hingga berdebam menghantam tanah.

Sudah cukup babak belur yang Putri rasakan. Kini ia sedang berfikir untuk melakukan sesuatu agar keluar dari lamunannya. Ingin sekali puteri memganggap ini hanya mimpi. Namun mimpi tak pernah semasuk akal ini.

Putri mulai menggenggam tangannya. Mengumpulkan energi saling menguatkan antara kanan dan kiri. Bukan, Putri butuh energi bukan karena sudah srharian menagis. Karena tak ada setetespun air bening itu yang turun.

Kekuatan yang Putri butuhkan sekarang adalah untuk menerima kenyataan, bahwasanya sekarang sudah tak lagi sama.

Puteri seharusnya belajar, bahwa kehilangan bisa terjadi kapan saja. Puteri seharusnya sadar, bahwa selama ini sudah terlalu erat menggenggam hingga tak ada lagi ruang untuk yang digenggam sampai-sampai ia terlepas.

Namun bukan Puteri namanya jika tak bisa membuat topeng tebal atas semua yang terjadi sekarang.

Yang ia fikirkan adalah hari esok, lalu ia berdiri. Menyudahi lamunannya dan masuk ke dalam rumah. Bertekad tak akan pernah lagi merasa ingin pulang.

Dipublikasikan oleh

avatar Tidak diketahui

ameame's

Coming Very Soon

Tinggalkan komentar