Secara terminologi, sabar menurut KBBI ialah “tahan menghadapi cobaan” (tidak lekas marah, tidak lekas putus asa, tidak lekas patah hati), tenang; tidak tergesa-gesa; tidak terburu nafsu. Untuk orang-orang yang memiliki cita-cita tinggi kata sabar ini pasti sudah sangat familiar, karena untuk mencapai cita-cita tersebut sudah dipastikan akan ada banyak cobaan yang menjadi syarat tercapainya.
Pembaca mungkin sudah mengetahui kisah hidup Jack ma, Pendiri Alibaba grup sekaligus “salah satu orang terkaya di China”. Jack Ma mengaku pernah ditolak Universitas Harvard sebanyak 10 kali. Dia bahkan tidak diterima di SMP satu-satunya di kotanya serta ditolak oleh tiga perguruan tinggi. Jack ma gagal tes masuk SD 2 kali, SMP 3 kali. Di kotanya hanya ada satu SMP dan tak ada satu pun sekolah yang mau menerimanya karena nilainya terlalu buruk. Setelah lulus kuliah, nasib malang tampaknya masih saja menghantui hidup Jack Ma. Kala itu, ia mencoba melamar pekerjaan di berbagai instansi perusahaan. Namun penolakan demi penolakan datang silih berganti. Jack ma pernah ditolak sebanyak 30 kali, bahkan KFC pernah menolaknya juga.
Cerita Jack Ma diatas adalah salah satu dari ribuan cerita orang-orang sukses setelah sekian banyak kegagalan-kegagalan yang harus dihadapinya. Jika kita memiliki cita-cita yang tinggi, apa yang dihadapi oleh Jack ma pasti juga berlaku untuk kita. Dengan banyaknya cobaan yang pasti datang silih berganti ini tidak mungkin kita bisa melewatinya tanpa moral sabar yang tertanam kuat. Masalahnya, moral sabar ini tidaklah mudah untuk diterapkan karena sudah fitrahnya seorang manusia untuk menghindari hal-hal yang membuatnya merasa menderita (salah satunya perasaan menderita yang akan timbul jika memiliki cita-cita yang tinggi).
Maka dari itu, dalam tulisan ini penulis ingin menunjukkan tips sukses bersabar ala Nabi Khidir a.s yang diberitahukan langsung oleh Allah swt dalam Al-qur’an surat Al Kahfi ayat 66 – 82 agar bisa diterapkan oleh pembaca sekalian jika ternyata dalam perjalanan mencapai cita-citanya menemui cobaan yang memunculkan perasaan menderita sehingga ingin menghindar dari tercapainya cita-cita yang tinggi itu.
Berikut kisah Nabi Khidir a.s dan Musa a.s dicuplik dari (Qs. Al Kahfi (18) : 66 – 82) :
66. Musa berkata kepada Khidhr: “Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?”.
67. Dia menjawab: “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersama aku.
68. Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?”.
69. Musa berkata: “Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusanpun.”
70. Dia berkata: “Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu.”
71. Maka berjalanlah keduanya, hingga tatkala keduanya menaiki perahu lalu Khidhr melobanginya. Musa berkata: “Mengapa kamu melobangi perahu itu akibatnya kamu menenggelamkan penumpangnya?” Sesungguhnya kamu telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar.
72. Dia (Khidhr) berkata: “Bukankah aku telah berkata: “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama dengan aku.”
73. Musa berkata: “Janganlah kamu menghukum aku karena kelupaanku dan janganlah kamu membebani aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku.”
74. Maka berjalanlah keduanya; hingga tatkala keduanya berjumpa dengan seorang anak, maka Khidhr membunuhnya. Musa berkata: “Mengapa kamu membunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan suatu yang mungkar.”
75. Khidhr berkata: “Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa sesungguhnya kamu tidak akan dapat sabar bersamaku?”
76. Musa berkata: “Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah (kali) ini, maka janganlah kamu memperbolehkan aku menyertaimu, sesungguhnya kamu sudah cukup memberikan uzur padaku.”
77. Maka keduanya berjalan; hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu, tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka, kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh, maka Khidhr menegakkan dinding itu. Musa berkata: “Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu.”
78. Khidhr berkata: “Inilah perpisahan antara aku dengan kamu; kelak akan kuberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya.
79. Adapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku bertujuan merusakkan bahtera itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera.
80. Dan adapun anak muda itu, maka keduanya adalah orang-orang mukmin, dan kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran.
81. Dan kami menghendaki, supaya Tuhan mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu dan lebih dalam kasih sayangnya (kepada ibu bapaknya).
82. Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu; dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya.”
Analisa kisah
Kisah Nabi Khidir dan Nabi Musa ini pasti sudah sering didengar oleh pembaca. Ketika mengetahui awal cerita, respon kita akan cenderung negatif kepada Nabi Khidir karena sudah membocori kapal, membunuh dan memperbaiki rumah (tidak jauh berbeda dengan respon Nabi Musa a.s). Namun setelah mengetahui alasan dari perilaku Khidir a.s tersebut, respon yang tadinya negatif akan cenderung berubah. Perilaku Khidir yang tadinya terkesan tidak bisa dimaafkan menjadi bisa dimaklumi bahkan dibenarkan. Penulis fikir pasti akan lebih mudah untuk Musa bersabar dalam perjalanannya bersama Khidir a.s jika terlebih dahulu Khidir a.s memberitahukan apa alasan dari perilakunya tersebut.
Sebenarnya jika Musa a.s jeli, Khidir a.s sudah memberikan “tips” agar Musa a.s dapat bersabar pada perjalanannya. Coba kita kembali pada (Qs. Al-kahfi : 68) yang berbunyi : “Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?”.
Jika merujuk pada Surat Al-Kahfi ayat 68 tersebut maka tips agar dapat bersabar adalah dengan memiliki pengetahuan yang cukup atas sebuah realitas. Menurut penulis, cara yang tepat untuk memiliki pengetahuan yang cukup dan benar adalah dengan cara “berfikir ilmiah” yang dimana dalam berfikir ilmiah ini sebuah realitas tidak pernah berdiri sendiri. Sebuah realitas pasti memiliki latar belakang, tujuan, asumsi dasar, data-data terkait, jika itu sebuah masalah maka ada sunatullah pemecahan masalahnya, dll.
Sama seperti kasus Khidir a.s yang membocorkan sebuah kapal. Perilaku tersebut memiliki “latar belakang” karena disana ada penguasa yang akan mengambil kapal-kapal yang bagus.Perilaku tersebut memiliki “tujuan” agar kapal nelayan tidak diambil dan nelayan tetap bisa mencari nafkah. Lalu ada “rumusan masalah” bagaimana agar kapal nelayan tersebut tidak diambil, keluarlah “pemecahan” untuk membocori kapal nelayan tersebut, sehingga para nelayan yang mencari nafkah dengan melaut tetap bisa bekerja mencari ikan.
Kesimpulan analisa :
Dari kisah Nabi Khidir dan Nabi Musa diatas, penulis menyimpulkan bahwasanya Allah swt dalam Al-qur’anNya sudah menunjukkan salah satu tips agar sukses untuk bersabar. Dalam hal ini yaitu dengan cara memiliki pengetahuan yang cukup, pengetahuan yang cukup ini didapatkan dari membiasakan berfikir ilmiah. Jika ada sebuah masalah/cobaan yang datang kepada kita, usahakan tidak langsung meresponnya sebagai realitas tunggal. Tapi kita harus “sadar” terlebih dahulu bahwasanya realitas masalah/cobaan tersebut pasti ada latar belakang, tujuan, data-data terkait dan sunatullah pemecahannya. Dengan kita menyadari hal itu, penulis rasa kita sudah menjalani satu langkah yang telah di tunjukkan oleh Allah swt kepada kita agar lebih bisa berperilaku “sabar” atas realitas masalah/cobaan yang datang disaat kita sedang mengejar cita-cita.
Hikmah :
“Dalam proses meraih cita-cita tinggi yang penuh dengan cobaan.. tetaplah Sadar, Sabar dan Samangat”