Part 5
Lalu bagaimana Putri bisa melewati hari demi hari di tengah kemelut rumah tangga orangtuanya?
Ditengah kemelut perasaan yang tidak menentu, Putri sering sekali ingin berputus asa. Putri sering berfikir bahwa ia adalah satu-satunya anak yang paling menderita di dunia. Putri bingung bagaimana hidup ia dan adiknya kedepan
Boro-boro memikirkan tentang lawan jenis seperti yang sedang teman-temannya sekarang lakukan. Bahkan untuk pergi ke sekolah saja Putri sudah sangat malam.
Putri adalah anak yang cukup pintar. Dari SD sampai kelas 2 smp ini setidaknya Putri tidak pernah keluar dari 5 besar. Tapi sekarang? sudah dua semester terlewati dengan keadaan rumah yang masih panas, rengking Putri sudah tidak tahu lagi berada diperingkat ke berapa.
Namun, sepertinya rengking kelas bukan menjadi prioritas Putri saat ini. Sekarang Putri sedang fokus “Bagaimana cara agar tidak menjadi gila/depresi dengan semua keadaan yang ada”.
Untungnya Putri ikut ekskul seni bela diri taekwondo. Taekwondo seperti rumah kedua setelah perpustakaan bagi Putri. Jika buku menjadi “dunia lain” saat dunia nyata terlalu rumit, taekwondo adalah tempat untuk mengeluarkan semua emosi dan menghabiskan berbagai emosi yang melelahkan.
Saat orangtua Putri bertengkar di rumah, ia hanya bisa diam. Berharap segera tertidur, hari berganti, lalu esok hari menjadi lebih baik dari hari ini. Pada saat itu, tempat untuk Putri mengeluarkan semua emosi adalah taekwondo. Setiap pulang dari taekwondo pasti badannya biru-biru. Hanya saat setelah taekwondo sajalah Putri bisa tidur dengan nyenyak (terpaksa tidur karena kelelahan lebih tepatnya)..
Di taekwondo, Putri bisa berteriak sepuasnya. Di taekwondo, Putri bisa mengeluarkan semua emosinya, apalagi jika sudah sparing. Tidak masalah badannya biru-biru, tak masalah badannya terasa remuk. Yang pasti, taekwondo mengajarkannya bagaimana cara mengendalikan emosi. Taekwondo mengajarkan bagaimana cara menggunakan emosi yang ada untuk sesuatu yang lebih menguntungkan.
Sepertinya selama ini Putri sangat tertolong sengan buku dan taekwondo
Andai daja Putri tidak memiliki buku dan taekwondo. Mungkin nasib Putri sekarang sama seperti nasib anak-anak broken home lainnya yang identik dengan kelam dan nakal.
Saat ini Putri sangat bersyukur karena memiliki “pelampiasan” yang tidak merusak dirinya. Putri berfikir mungkin hal ini bisa menjadi solusi untuk orang-orang yang juga bersinggungan dengan anak-anakbroken home.
Ada baiknya anak-anak yang kondisi orangtuanya seperti ini memiliki “pelampiasan yang baik”. Bagaimana pelampiasannya tersebut memiliki pengaruh baik bagi jiwa dan raganya. Sebagaimana anak remaja pada umumnya, mereka memiliki banyak energi, apalagi jika sedang emosi. Emosi apapun yang sedang ia miliki bisa membuatnya lebih kuat atau malah menghancurkan dirinya sendiri.
Begitulah bagaimana Putri bisa melewati hari-hari terburuknya saat itu. Hingga kini, Putri sangat bersyukur lagi berada di lingkungan yang positif dan tempat. Putri sangat bersyukur karena bisa menyalurkan energinya ke tempat yang tepat.