Part 4
Menjadi orang tua berarti harus siap untuk memegang tanggun jawab dan kepercayaan. Yang ada di dalam benak Putri, kepercayaan adalah saat ia kecil selalu di lempar ke udara oleh ayahnya namun yang ia rasakan adalah kebahagiaan. Karena ia percaya bahwa ayah pasti menangkap kembali dan tidak akan membiarkan Putri terjatuh maupun terluka.
Ayah dan Ibu adalah orang pertama, bahkan satu-satunya orang yang sangat Putri percayai. Saat orangtuanya bertengkar, yang ia fikirkan adalah adiknya. Karena Putri merasa punya buku sebagai “sahabatnya”. Selain itu ada beberapa teman yang juga simpati dengan keadaan keluarganya sekarang (ada teman curhat). Tapi bagaimana dengan adiknya yang masih kelas 3 SD? Adiknya pasti belum punya teman curhat, pasti juga tidak bisa menjadikan buku sebagai sahabat.
Namun pada saat itu Putri juga belum mengerti bagaimana cara menangani adiknya. Karena untuk menangani perasaannya yang hancur lebur sekarang saja, ia juga tak tahu. Apalagi sejak dahulu
Putri bukan tipe kakak yang pandai memperlihatkan perasaan sayang kepada adiknya. Momen Putri dan adiknya selalu tentang pertengkaran. Padahal saat ini Putri benar-benar ingin membuat adiknya tidak menangis, benar-benar ingin adiknya tidak merasakan perasaan yang sedang ia rasakan sekarang.
Saat itu, Putri belajar tentang dua perasaan yang menyakitkan. Pertama adalah perasaan sakit karena orang pertama bahkan orang satu-satunya yang ia cintai (Kedua orangtuanya) membuat kecewa. Perasaan kedua adalah perasaan sakit karena melihat adiknya menangis dan harus merasakan kekecewaan yang sama dengan perasaannya.