Orang bijak zaman dahulu mengatakan “ada 3 orang yang tak bisa dinasehati: 1. Orang yang sedang jatuh cinta. 2. Orang gila. 3. Orang mati”. Lalu akhir-akhir ini ada tipe orang ke-4, yaitu orang yang dukung Capres (😆✌).
Eits eits, hehee, maaf yach saya sedang tidak ingin membahas politik. Hanya saja akhir-akhir ini saya sedang bimbang untuk melakukan penjelasan, atau membiarkannya saja (karena saya merasa aneh aja “kenapa sih harus ngejelasin ke orang lain? Seakan-akan apa yang saya lalukan itu salah, tidak atas dasar perhitungan baik-buruk”).
Dalam setiap perilaku, manusia (disadari/tdk) pasti punya standart dong ? Sepeti merampok, berbohong, membunuh, memfitnah itu buruk. Sedangkan membantu orang lain, jujur, ramah, sopan itu adalah baik.
Tapi dalam berperilaku, sering kali “tak semudah itu”. Contoh seperti pada kisah Umar. Umar pernah tidak menghukum orang yang mencuri. Mengapa? Karena a b c d kehidupan. Contoh lagi? Nabi khidir membolongi kapal nelayan miskin dan membunuh seorang anak.
Lalu apa? Jadi jelaskan atau tidak? .
Nah, ternyata “menjelaskan” itu perilaku juga kan yah? Kata kerja gitu loh.. Berarti, dalam menjelaskanpun harus ada perhitungan, ada standart kapan harus menjelaskan, kapan harus menyimpan sendiri saja. Standart kepada siapa kita menjelaskanpun harus di perhatikan. .
Hati-hati.. Menjelaskan di waktu yang salah, atau tempat yang salah justru berbahaya.. Contoh nih ya, di instagram menyampaikan bahwa kita sedang sakit dan sendirian di kosan. Inginnya sih, agar doi peka gitu. Eh tp malah ternyata ada perampok yang memanfaatkan kesakitan kita untuk merampok. Beeuuuh, kan jadinya mudharat.. Naudzubillah min dzalik.