Hei-hei, aku tidak sedang mengeluh. Justru sekarang sepertinya aku sedang jatuh di antara bintang-bintang.. Loh, kok bisa? Iya, alhamdulillah setelah perjalanan panjang membabi buta itu akhirnya aku sadar bahwa melamar pekerjaan pun membutuhkan modal. Tak bisa hanya sekedar keberuntungan, kecuali yang syarat pekerjaannya masih umum dan memang dapat dilakukan.
Jadi, setelah memasukkan lamaran di kota manapun, pekerjaan apapun dan perusahaan apapun sampai alhamdulillah nya sering interview sana-sini, aku sadar.
Ketika para interviewer bertanya, fikiranku semakin terbuka harus melangkah kemana (so, jangan terlalu sedih sepertiku saat tidak lolos padahal sudah interview user 🙈🙈🙈) karena pasti ada api saat ada asap.
Interviewer-interviewer tersebut adalah orang ahli, minimal sarjana psikologi sehingga dia memiliki standart untuk mengetahui apakah kita mampu atau tidak dibidang itu. Karena hal tersebut, maka satu dua bulan kebelakang saya memasukkan lamaran “hanya dibidang” yang saya kuasai. Baik itu melalui pendidikan ataupun otodidak.
Saya tidak pernah lagi bertaruh untuk sesuatu yang saya harus mulai dari awal melakukannya (karena bakal di tolak di interview pertama 🙈) *kecuali pekerjaan yg membutuhkan keahlian umum.. Dan sekarang saya bersyukur sudah berada di likngkungan yang mudah-mudahan saya bisa berkembang di sini.
Lingkungan yang mana saya “tidak sabar untuk segera besok”. Lingkungan yang mana hari libur sepertinya tidak dibutuhkan. Lingkungan yang bisa membuat saya lupa perasaan lelah, membuat saya tak masalah jika pergi lebih cepat dan pulang lebih lambat.
Tapi bukan berarti perjuangan saya di quarter crisis of life ini sudah selesei, justru saya menghadapi hal baru yang lebih menantang..
But, its okay setidaknya secara kemampuan saya sudah memiliki modal walaupun terlihat masih jauh dari kata ideal.. To be continued
