Blog ameame dan non fiksi

Hai gais, ketemu lagi di blog ameame. Kali ini ame mau ngasih tau tentang genre tulisan ame dan alasan ame menetapkan genre yang seperti itu. Kira-kira apa ya gaes genre tulisan ame sejauh ini dan mengapa ame lebih memilih jenis itu? Angsung saja yuk check it out..

Ada yang sudah tau ame bakal memilih genre apa? Yups betul, ame akan memilih genre non fiksi. Kenapa non fiksi? Padahal ame juga suka baca novel dan menikmati puisi?

Pertama karena ame sekarang berkecimpung/kerja di dunia non fiksi. Kerjaan ame bikin artikel gais, sehingga ame akan membuat blog sesuai dengan kebiasaan ame. Karena targetnya konsisten duli gais. Jadi dibisa-bisain, gak dipersulit.

Kedua non fiksi itu bisa membantu langsung orang-orang sekitar gais. Apalagi kalo ame bikin artikel tips dan trik. Terus kalo ada yang baca itu seneng banget deh gais. Apalagi kalo bermanfaat, untuk banyak orang lagi 🙂 🙂

3. Yang terakhir karena itu yang lebih realistis gais. Karena prioritas ame sekarang adalah pekerjaan, maka untuk menulis non fiksi ame stop dulu gais. Karena imajinasi ame suka liar. Kalo nulis non fiksi bisa berabe karena kalo udah mulai susah berenti. Heheee

Itu gais pilihan ame dan sedikit alasannya. Semoga memberikan informasi untuk membuat kalian mengenal ame ya gais. Terimakasih sudah mampir di blog ameame 🙂 🙂

Persaudaraan

Kalian tau gak tentang sandwich generation? Sama, saya juga kurang faham. Cuman sefaham saya sandwich generasi itu sejenis keadaan seseorang yang selain harus memenuhi kebutuhan hidup diri sendiri serta anak istri juga harus membiayai orangtua bahkan saudara2nya. Biasanya perilaku ini memang karena “tali persaudaraan” sehingga sulit lepas dari ikatan emosional.

Hal ini cukup menjengkelkan, terutama untuk orang-orang yang sedari dulunya merantau dan hidup di kota-kota besar. Kalo untuk orangtua yg sewajarnya its okay lah. Soalnya mereka memang “mengurus” anaknya dari kecil, ya walaupun itu memang kewajiban mereka.

Yang bikin kesel adalah sanak saudara handaitaulan yang “merecoki”. Sejenis gua gak minta ke elu terus lu ngasih (padahal serius deh gua gak butuh dan pengen) apa yang lu kasih. Dan endingnya gua harus ngebales itu dengan ngasih elu. Kalo gak gitu ya digibahin.. Ngeselin gak sih? Ya enak kalo si gue kaya. Lah kalo si gue sama-sama miskinnya?

Untuk keadaan gini emang harus kuat-kuat mental nih. Perlu morat rasional yang tinggi. Kalo emang baiknya dikasih ya kasih aja. Kalo gak ada ya jangan dikasih dong, gitu aja kok repot. Lah dalah, ngomong sih enak. Coba deh rasain sendiri kalo gitu.

Makanya seminim mungkin jangan terlibat masalah balas budi sama saudara sendiri, akhirnya seumur hidup bakal jadi obrolan santai keluarga. Padahal itu masalah gak santai loh. Lah enak kalo mereka ngerasain susahnya kita. Terus gimana dengan keadaan saia yang jarang memperlihatkan kesusahan ini? Karna ya mereka gak mesti taulah ya susahnya saya seperti apa.

Jika tidak mau rugi..

Ada sebuah pepatah yang sepertinya akan sangat bagus jika diikuti. Pepatahnya berbunyi “Jika tidak ingin menyesal, jangan mengambil keputusan saat sedang marah dan jangan berjanji saat sedang senang”. Pepatah ini menurut saya cukup logis karena sedang marah dan sedang senang adalah dua kondisi perasaan yang “berlebih”. Itu berarti tindakan selanjutnya bisa jadi diputuskan dominan karena faktor perasaan.

Padahal, sebuah tindakan jika tidak ingin berdampak buruk ke depannya harus diambil dari pendasaran logis. Sebuah perilaku harus dihitung baik buruknya. Apakah perilaku kita saat sedang maran atau saat senang tersebut kedepannya akan menguntungkan atau malah merugikan?

Pernah gak sih buat status wa, ig atau fb saat sedang marah? Terus kurang dari satu jam semenjak sudah memposting status itu lalu buru-buru dihapus karena merasa status tersebut tidak layak diposting? Atau membuat janji ketika sedang keadaan sangat senang tapi ternyata dikemudian hari tidak bisa menepati janji tersebut?

Itu sebenarnya adalah hal yang sangat sederhana. Ketika kita emosi/marah kepada seseorang maka saat itu kita merasa orang tersebut benar-benar menyebalkan, tidak layak dimaafkan dan tidak pantas diperlakukan dengan baik. Namun setelah kita diam, merenung, mengendalikan perasaan marah tadi, bisa jadi kita menemukan alasan-alasan yang dapat mengurangi rasa marah tadi.

Karena kita bisa jadi orang yang paling dirugikan ketika mengambil keputusan saat marah. Kita membiarkan diri kita dikendalikan oleh amarah, dikendalikan oleh perilaku orang lain. Bukan dikendalikan dengan akal sehat penilaian etis tidaknya perilaku tersebut dilakukan.

Maka dari itu, ketika sedang marah kita dianjurkan untuk diam dan duduk. Jika tidak mereda juga cobalah untuk membasuh muka. Jika masih tidak mereda juga bisa dicoba untuk berbaring dan istighfar. Bagaimana pun kendalikan lah dirimu. Jangan sampai dirugikan karena orang lain yang menyulut amarah kita jika tidak ingin rugi..

Selamat mencoba..

Tuma’ninah

Tuma’ninah dalam sholat adalah berhenti sebentar. Dari satu gerakan ke gerakan lain, dari bacaan satu ke bacaan yang lainnya dianjurkan untuk melakukan tuma’ninah. Mengapa?

Mungkin karena antara satu kegiatan dengan kegiatan lainnya butuh pembeda, dari satu hal ke hal lainnya butuh pembiasaan dan renungan. Yang pasti dirasakan saat tidak ada tuma’ninah adalah kelelahan. Seperti tidak sadar tahu-tahu selesai. Seperti tidak sadar tak tahunya baru 3 rakaat padahal sedang sholat dzuhur. Seperti tidak sadar sudah berdiri lagi, padahal harusnya duduk tahiyat awal -.-

Pernah gak sih? Jujur saya pernah. Beberapa kali malahan, Astaghfirullah.. Padahal seharusnya waktu sholat adalah waktunya kita untuk merenung. Menyadari kembali sebenarnya apa yang kita lakukan di dunia ini untuk apa sih? Diciptakannya kita di dunia ini kenapa sih?

Sholat itu menurut saya seharusnya merupakan tuma’ninah hidup. Di saat seharian penuh bekerja mengejar target, setiap bangun pagi memikirkan target selanjutnya, langkah selanjutnya, inovasi selanjutnya, lalai dalam sholat membuat saya merasa lelah. Tiba-tiba stres dan frustasi, lalu baru sadar bahwa selama ini sholatnya gak kualitas (cuman gugur kewajiban) atau bahkan meninggalkan sholat sma sekali.

Memang sholat itu merupakan amalan yang sangat privat sekali, namun tak ada salahnya jika kita meminta lingkungan untuk mengingatkan. Dekat dengan teman-teman yang bisa menyadarkan tuma’ninah kita di dunia ini.

Karena harusnya kita sadar bahwa dunia hanya senda gurau. Hanya seperti pagi atau esok hari. Tak setetespun nikmat dunia bisa lebih membahagiakan daripada nikmat akhirat. Maka dari itu, jangan sia-siakan akhiratmu.

Kabut Asap

Entahlah apa yang terjadi sekarang, kabut asap semakin tebal. Padahal di sini Palembang kota yang jauh dari titik api. Kabut asap ini membuat mata sakit, hidung sakit, dan kepala pening.

Padahal saya adalah anak muda yang sehat walafiat. Bisa dibayangkan kalo yang terpapar asap ini adalah balita atau lansia. Astagfirullah, mata dan kepala ini pening sekali.

Saat dini hari keluar rumah, malam sangat pekat. Seperti ada kebakaran di sebelah gang. Langit malam tak lagi kelam, namun merah seperti marah. Saat fajar menyongsong, kabut asap semakin tebal. Seperti sedang berada di puncak, bedanya dengan udara yang membuat pening kepala.

Sampai kapan kabut asap selesai? Bisikan-bisikan jahat sudah seperti angin lalu. Sudah menjadi rahasia umum sang raja sedang berkuasa. Maka, sebanyak apapun yang terkena dampaknya, sebanyak apapun nyawa yang menderita, raja tetap menjalankan titahnya.

Sekarang saya tak punya solusi, hanya berharap hujan deras segera menghampiri. Toh mengkritik raja seorang diri pun takkan membuat perbedaan apa-apa.

Yang Selalu Terjadi Saat Hujan


Jika musim hujan datang, bau basah tanah adalah sesuatu yang sangat dirindukan. Seperti sekarang saat musim kemarau, bau itu adalah sesuatu yang di tunggu-tunggu. Ada banyak hal yang membuat orang tidak menyukai musim hujan. Namun untuk sebagian orang musim hujan adalah sesuatu yang menyenangkan.

Hujan menjadi sesuatu yang menyenangkan karena ada banyak hal yang lebih nikat jika dilakukan saat itu. Seperti makan indomie telor di saat hujan, bergelum didalam selimut seharian saat hujan. Tidur bersama keluarga diruang tamu bersama-sama karena tidak dapat keluar rumah, dan masih banyak hal menyenangkan lainnya.

Hal yang paling menyebalkan saat hujan tentu saja banjir. Got, sungai dan lautan penuh dengan sampah plastik. Survei membuktikan bahwa sampah plastik menjadi sampah paling banyak yang ada di lautan dan menyebabkan banjir. Bagaimana tidak, plastik setiap harinya digunakan sangat banyak dan sangat mengerikan? Pernah suatu ketika saya ikut mamah ke pasar untuk membeli sayur mayur dan penggunaan plastik untuk satu bahak ke bahan lainnya sangatlah mengerikan.

Belum lagi saat membeli makanan atau jajanan yang telah jadi. Bahkan dari permen yang kecil pun sampah plastik sangat banyak digunakan. Padahal plastik adalah salah satu bahan yang masa hancurnya bisa lebih dari ribuan tahun.

Jika sudah banjir maka yang terjadi adalah macet. Jalan yang harusnya dapat digunakan menjadi off karena genangan air yang tinggi ini. Jika ada kendaraan yang nekat menerobos maka kendaraan tersebut akan mati atau mogok sehingga lebih merepotkan lagi.

Untuk mengurangi produksi plastik di dunia, peran kita seorang diri tentu tidak ada artinya. Namun begitu bukan berarti kita tidak bsisa menjadi penggerak. Seorang motivator berkata bahwa dunia berubah dimulai dari dirimu yang merubahnya. Jika kamu memulai untuk menggunakan tas belanjaan saat pergi ke pasar, membawa tempat makan saat jajan dan sedotan aluminium atau bambu untuk minum maka setidaknya sampah plastik yang harusnya kamu gunakan akan berkurang.

Saat kamu mengurangi plastik kamu juga dapat mengajak keluarga atau teman-teman terdekatmu untuk menguranginya juga. Kamu bisa menjadi panutan karena tidak hany biacara tapi juga melakukan aksi nyata.



Rindu Hujan

Fenomena asap di beberapa kota negara Indonesia kini menjadi sesuatu yang harusnya serius untuk ditangani. Pasalnya bencana asap kebakaran lahan ini bukan baru pertama kali terjadi. Banyak masyarakat yang menghidup asap terkena penyakit infeksi saluran  penciuman atas. Tidak hanya penyakit, aktifitas sehari-haripun. Di salah satu kota, jam masuk sekolah dimundurkan bahkan ada sekolah yang meliburkan muridnya karena asap tebal yang tidak sehat.

Masyarakat di kota-kota ini rindu dengan tanaman yang basah. Tanaman yang terlihat segar, bukan tanaman yang tebal dengan debu jalanan dan hasil pembakaran. Harusnya, setiap bencana yang hampir terjadi setiap tahun masyarakat dan pemerintah memiliki antisipasi dan penanganannya sendiri-sendiri. jangan malah cara yang tidak efektif selalu dilakukan berkali-kali. Padahal tidak berpengaruh apa-apa hanya gugur kewajiban.

Namun kondisi asap ini cukup sulit, karena kemarau panjang memang selalu begitu. Setelah titik api satu dapat dipadamkan, titik api yang lainnya bermunculan. TNI dan masyarakat bukan tidak melakukan antisipasi atau penanganan. Tapi memang belum ada penanganan efektif yang dapat dijalankan.

Bahkan sekarang ada wacana untuk mempercepat turunnya hujan dengan meletakkan baskom plastik yang berisi air garam di depan rumah. Bahkan Sholat Istighasah sudah banyak dilakukan di berbagai tempat untuk meminta datangnya hujan. Namun memang mungkin hukumnya belum tepat sehingga hujan yang diminta tak kunjung datang.

Salah satu akibat yang terasa di kota besar akibat asap yang tebal adalah macet. Asap yang membuat jarak pandang hanya sejauh 5 meter atau bahkan 3 meter memaksa masyarakat untuk berkendara sehati-hati dan sepelan mungkin. Karena di beberapa tempat sudah ada beberapa kecelakaan yang terjadi karena jarak pandang yang pendek ini.

Tentang komunikasi

Komunikasi adalah cara untuk dua atau lebih orang saling mengerti satu dengan yang lain. Apakah komunikasi sama dengan berbicara? Bagaimana jika ketika telah berbicara namun tidak ada orang yang mengerti? Apakah hal tersebut dapat disebut komunikasi? Atau bagaimana jika hanya saling melirik mereka sudah saling mengerti> Apakah kejadian tersebut disebut komunikasi?

Seperti yang telah saya pelajari, ada 3 variabel dalam komunikasi yaitu komunikator (subjek komunikasi), pesan dan komunikan (objek komunikasi). Dalam menyampaikan pesan ada yang namanya media. Media dalam berkomunikasi ada banyak seperti dengan suara, gerak tubuh, tulisan, gambar, sentuhan, perasa dan lain sebagainya. Maka dari itu menyampaikan pesan melalui lirikan tetap disebut berkomunikasi.

Terus bagaimana dengan berbicara kepada orang lain namun dia tidak mengerti atau bahkan salah mengerti. Ada dua hal yang bisa disimpulkan, untuk kasus pertama apa yang tidak dimengerti oleh komunikan bisa jadi tidak disebut komunikasi. Misal komunikator menggunakan bahasa arab sehingga komunikan tidak mengerti apa yang disempaikan oleh komunikator. Namun ketika komunikan “faham” bahwa si komunikator ini ingin menyampaikan sesuatu kepada saya, itu tela terjadi namanya komunikasi.

Untuk kasus yang kedua dengan contoh komunikator menggunakan bahasa inggris seperti banana, tapi ternyata yang difahami komunikan, banana itu adalah apel. Maka hal tersebut tetap disebut komunikasi karena komunikan menangkap pesan dari komunikator. Namun komunikasi tersebut bisa jadi disebut komunikasi tidak efektif karena komunikan tidak menangkap maksud dari komunikator secara benar.

Untuk kasus pertama sebenarnya dapat juga menjadi kasus kedua. Komunikator yang menggunakan bahasa Arab tersebut memiliki maksud berkata pisang, namun karena terdengar kasar, si komunikan menganggap komunikator marah-marah. Maka hal tersebut dapat menjadi komunikasi tidak efektif.

Nah teman-teman, agar tujuan dari komunikasi kita tercapai jangan lupa samakan asumsi. Jika kita merasa komunikan tidak faham apa yang kita sampaikan jangan ragu atau malah malas untuk menjelaskan. Karena komunikasi yang tidak efektif dapat menjadi salah faham yang akan membuat suasa komunikator dan komunikannya menjadi tidak enak suatu hari nanti.

Masih adaptasi

Jadi saat ini saya sedang beradaptasi di tempat kerja yang baru. Untuk masalah adaptasi ini menurut saya ada 2 hal yang paling rempong. Pertama adalah adaptasi sama “kerjaannya”, kedua adaptasi sama “lingkungan” kerjanya.

Dua hal ini menjadi target utama saya akhir-akhir ini. Lucunya adalah saya kesulitan jika harus melakukan keduanya bersamaan sehingga saya berfikir akan lebih memilih beradaptasi dengan pekerjaannya terlebih dahulu.

Pekerjaan yang saya kerjakan ini sebenarnya sesuai minat, namun yang namanya baru masuk dunia profesional dan baru tahu sedikit cara kerjanya maka tak jarang proses adaptasi ini ajleg-ajlegan. Banyak hal yang tidak dapat saya lakukan dan membutuhkan orang lain untuk bertanya dan membantu kesulitan yang sedang saya alami.

Saat awal-awal bertanya sungkan dan khawatirnya setengah mati. Banyak persepsi yang ada di kepala saya. “gimana kalo dia gamau bantu”, “gimana kalo dia lagi repot”, “gimana kalo aku dianggap caper”, “gimana kalo aku dianggap bodoh” dan banyak persepsi lainnya.

Namun karena sudah kepepet akhirnya bertanya kepada yang lain bisa dilakukan. Pertanyaan pertama dan kedua mungkin kaku sekali. Tapi setelah beberapa kali bertanya, sepertinya mereka tidak “semenakutkan itu”. Hingga aku sampai pada satu kesimpulan.

Selama ini yang membuatku merasa takut sehingga menghambat proses adaptasiku adalah sikapku yang tidak seimbang. Seharusnya dalam adaptasi di pekerjaan baru dua variabel tadi dijalankan beriringan. Faktor lingkungan akan mempercepat proses adaptasiku. Dari mereka aku bisa belajar bagaimana yang seharusnya. Karena mereka adalah referensi yang tepat untuk mengetahui asumsi dasar yang ada di situ.

Tidak memasukkan atau memanfaatkan variabel lingkungan kedalam proses adaptasi adalah hal yang mubazir karena menjadi tidak teroptimalkan dengan baik. Padahal jika kita optimalkan, proses kita bisa jadi akan menjadi cepat karena adanya bantuan.

Dan satu lagi yang pasti ketika harus beradaptasi, yaitu bertanyalah. Carilah semua asumsi dasar yang berhubungan dengan hal tersebut. Karena semakin banyak kita tahu, semakin banyak pula pilihan kita untuk menyelesaikan sebuah hal.

Untuk masalah persepsi-persepsi tentang respon lingkungan, coba aja dulu.. Siapa tau cocok. Kalo positifkan sangat membantu, kalo negatif ya jauhi saja lingkungan yang seperti itu.

Adaptasi

Adaptasi adalah proses untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan. Adaptasi merupakan sebuah tahapan awal seseorang yang sedang dalam keadaan peralihan. Biasanya keadaan ini tidaklah mudah. Karena orang yang sedang beradaptasi butuh keluar dari “zona nyaman”. Keluar dari kebiasaan sehari-hari.

Keluar dari keadaan sehari-hari berarti memutar otak untuk bisa melakukan sesuatu dengan benar. Keluar dari keadaan sehari-hari berarti menata hati agar bisa merasakan dengan benar. Karena, rumus yang sukses di lingkungan sebelumnya belum tentu sukses jika digunakan pada lingkungan baru.

Banyak hal yang musnah karena gagal beradaptasi. Seperti hewan-hewan yang dulunya banyak menjadi langka dan akhirnya punah. Seperti teknologi yang dulunya sudah sangat canggih, karena gagal beradaptasi menjadi binasa. Seperti manusia yang gagal beradaptasi lalu memutuskan untuk mengakhiri diri.

Lalu, bagaimana seharusnya kita beradaptasi? Apa yang dapat kita lakukan agar tidak terlindas oleh waktu dan menang dari keadaan?

Hal utama yang harus dilakukan adalah SADAR dan SABAR. Mengapa? Karena ketika kamu tak sadar sedang dalam kondisi adaptasi, apapun hasil yang kamu lakukan pasti membuatmu berfikir gagal. Padahal belum tentu gagal, karena kamu memulai dari awal bisa jadi itu adalah kemajuan buatmu yang baru beradaptasi. Walaupun jika dibandingkan dengan orang lain kamu sangat jauh.

Disanalah letaknya kesabaran. Kamu harus sabar berproses. Orang baru dengan orang lama pasti berbeda. Untuk bisa mencapai orang yang ahli atau telah lama melakukan hal tersebut, kamu harus berproses agar bisa setara.

Maka dari itu, hasilmu yang rendah katamu itu tidak dapat dibandingkan dengan hasil orang lain yang sudah berada lebih lama di sana darimu.