Fenomena asap di beberapa kota negara Indonesia kini menjadi sesuatu yang harusnya serius untuk ditangani. Pasalnya bencana asap kebakaran lahan ini bukan baru pertama kali terjadi. Banyak masyarakat yang menghidup asap terkena penyakit infeksi saluran penciuman atas. Tidak hanya penyakit, aktifitas sehari-haripun. Di salah satu kota, jam masuk sekolah dimundurkan bahkan ada sekolah yang meliburkan muridnya karena asap tebal yang tidak sehat.
Masyarakat di kota-kota ini rindu dengan tanaman yang basah. Tanaman yang terlihat segar, bukan tanaman yang tebal dengan debu jalanan dan hasil pembakaran. Harusnya, setiap bencana yang hampir terjadi setiap tahun masyarakat dan pemerintah memiliki antisipasi dan penanganannya sendiri-sendiri. jangan malah cara yang tidak efektif selalu dilakukan berkali-kali. Padahal tidak berpengaruh apa-apa hanya gugur kewajiban.
Namun kondisi asap ini cukup sulit, karena kemarau panjang memang selalu begitu. Setelah titik api satu dapat dipadamkan, titik api yang lainnya bermunculan. TNI dan masyarakat bukan tidak melakukan antisipasi atau penanganan. Tapi memang belum ada penanganan efektif yang dapat dijalankan.
Bahkan sekarang ada wacana untuk mempercepat turunnya hujan dengan meletakkan baskom plastik yang berisi air garam di depan rumah. Bahkan Sholat Istighasah sudah banyak dilakukan di berbagai tempat untuk meminta datangnya hujan. Namun memang mungkin hukumnya belum tepat sehingga hujan yang diminta tak kunjung datang.
Salah satu akibat yang terasa di kota besar akibat asap yang tebal adalah macet. Asap yang membuat jarak pandang hanya sejauh 5 meter atau bahkan 3 meter memaksa masyarakat untuk berkendara sehati-hati dan sepelan mungkin. Karena di beberapa tempat sudah ada beberapa kecelakaan yang terjadi karena jarak pandang yang pendek ini.